Kaya Raya Bermakna Secara Syariah Melalui Properti
Hampir tak percaya bahwa saya pernah begitu dekat dengan Ust. Nasrullah semasa kuliah. Bayangkan saja, julukan Ustadz “Terdekat”, maksudnya adalah Ustadz yang berdomisili begitu dekat dengan kampus, menjadi salah satu cita rasa tersendiri bagi saya. Beliau adalah guru bagi kami, mahasiswa/i muslim PNJ dan juga ‘sahabat’ dengan suaranya yang khas.
Tak diduga, selepas kelulusan saya, Ustadz menjadi benar-benar luar biasa bermanfaat bagi masyarakat umum dalam hal, apa yang beliau sebut SpiritualpREneurship. Yang memadukan nilai-nilai spiritual dan entrepreneurship dalam sebuah kesatuan prinsip. Dengan langkah optimis, positif thinking, upaya tak kenal lelah, tanpa harus manipulasi, Allah akan membuka jalan kesuksesan. Insya Allah.
Semoga hal ini juga dapat membuka cakrawala dan ‘mind-set‘ kita semua.
Berikut petikan yang saya kutip dari website beliau:
Assalamu ‘alaikum Wr Wb
Ba’da tahmid was sholawat
Saudaraku seiman..
Menjadi kaya raya adalah impian semua orang. Sifat Allah Ar-Rozzaq (Maha Memberi Rizqi), Al-Ghoniy (Maha Kaya) dan Al-Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan) yang ditanamkan kepada manusia menjadikan manusia ingin menguasai kekayaan. Namun cara manusia mencapainya memiliki spektrum yang amat panjang. Mulai cara yang halal sampai yang menjurus kepada kesyirikan.
Pada zaman keemasan Islam (khoirul qurun), para sahabat Rasulullah SAW menguasai kekayaan dengan motivasi terbaik mereka, mengabdi kepada Allah. Dan tentu saja, rizqi yang mereka terima, hanya yang halal saja. Ciri mereka ada pada keteguhan dan kerja keras dalam berproduksi, namun sangat hemat dalam konsumsi. Inilah zuhud yang benar. Bukan dengan ber-miskin ria lalu melegitimasi kemalasannya dengan baju zuhud.
Dalam sejarah tercatat, Umar bin Khattab RA ketika wafat meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta (perkiraan konversi ke dalam rupiah). Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta,
“Berarti Umar ra mendapatkan passive income sebanyak Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan!”. (Fikih Ekonomi Umar ra, penerbit Khalifa, hal. 47 & 99, konversi pada saat harga dinar Rp 1,2 juta)
Subhanallah…
Umar ra dalam anjurannya untuk berproduksi, berkata: “Aku wajibkan kepada kalian tiga bepergian, yaitu: Haji dan umroh, Jihad dan usaha untuk mencari rizqi” (idem, hal 48).
Bahkan beliau juga berkata, “Tidaklah Allah menciptakan kematian yang aku meninggal dengannya setelah terbunuh dalam jihad yang lebih aku cintai daripada aku meninggal di antara kedua kaki untaku ketika berjalan di muka bumi, dalam mencari sebagian karunia Allah” (idem, hal 42)
Masih banyak atsar Umar ra yang lain, yang menganjurkan para sahabat untuk gemar berproduksi. Namun coba kita lihat betapa Umar ra menganggap dirinya bermewahan jika makan lebih dari dua lauk dalam satu hidangan… kehidupan konsumsi yang sangat kontras dengan produksinya.
Dengan prinsip kekayaan seperti inilah akhirnya para sahabat mampu mencetak para konglomerat muslim, seperti Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin Affan, Amru bin Ash, Muawiyyah dan sahabat yang lain yang telah meraih kekayaan sejatinya.
Lalu, dimana benang merahnya? dimana sumber kekayaan itu sebenarnya? bagaimana umat Islam masa kini bisa seperti mereka?
Benang merah yang bisa saya lihat pada mereka dan ilmu-ilmu kekayaan pada masa kini, ada pada penguasaan PROPERTI mereka. Ya, PROPERTI. Umar ra memiliki warisan 70.000 ladang pertanian, Ustman ra memiliki properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar, beberapa sumur produktif senilai 240 Miliar. Belum lagi sahabat yang lain. Mereka semua kaya dari properti…
Maka, kalau boleh saya sarankan kepada para pengusaha dan pekerja muslim, arahkan strategi Anda pada properti seperti para sahabat Rasulullah SAW itu. Bahkan Umar ra selalu menganjurkan kepada para pejabatnya untuk tidak menghabiskan gajinya untuk konsumsi. Melainkan disisakan untuk membeli properti. Agar uang mereka tidak habis hanya untuk dimakan.
Kenapa harus properti?
1. Karena sahabat kaya raya lewat properti
2. Karena Allah tidak ciptakan bumi yang kedua, sehingga harganya makin mahal
3. Karena harga properti naik terus dan tidak fluktuatif
4. Karena properti adalah investasi terbaik dan teraman
5. Karena properti memiliki dua keuntungan : Capital gain dan cash flow
6. Karena bumi ini harus diwarisi oleh kaum yang taat kepada Allah saja.
Bisnis berbasis properti adalah bisnis yang aman, insya Allah. Jika tidak berbasis properti akan mudah dihancurkan badai. Jadi jika Anda berbisnis, maka arahkan bisnis itu pada penguasaan properti. Jika Anda bekerja, maka sisihkan gaji Anda untuk membeli properti.
Pada masa kini, dengan perbankan syariah sebagai leverage terbaik dan halal, mampu membuat kita membeli properti dengan modal yang minim, bahkan tanpa modal sama sekali.
Saya kan bukan pebisnis?
Saya kan hanya karyawan?
Properti kan harganya mahal?
Dulu sayapun seperti Anda, punya pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Dulu saya juga orang susah! Sempat terkatung-katung di Malaysia, menjadi tukang cuci (laundry) dengan gaji harian lebih rendah dari tukang kenek bangunan. Bekerjanya pun takut-takut dirazia dan ditangkap polisi, karena saya termasuk pekerja ilegal.
Bahkan untuk dapat fasilitas hidup saya harus memulung, mengambil barang sisa orang Malaysia. Alhamdulillah, akhirnya dapat pekerjaan sebagai asisten peneliti di UTM, Johor Bahru.
Sepulangnya dari Malaysia, saya mulai merintis usaha, jual keramik dan sanitair. Pelanggan saya adalah para kontraktor dan arsitek. Hanya setahun, saya berfikir, enakan jadi kontraktor, untungnya bukan hanya dari keramik, tapi juga dari kayu, semen, pasir dan bahan material lain. Akhirnya, saya rubah usaha menjadi kontraktor kecil-kecilan. Setahun saya ‘hanya’ –alhamdulillah, dapat order 4 rumah. Lalu, saya berfikir, enak juga kalau jadi developer, mengejar bola.
Akhirnya saya mulai berkenalan dengan dunia properti.
Properti pertama yang saya beli adalah tanah seluas 3.000 m2. Sebenarnya saya tidak beli, tapi kerjasama, modalnya didapat dari salah satu calon konsumen yang ingin renovasi rumah tapi tidak jadi. Akhirnya, saya kerjasama dan masuk di dunia properti tanpa modal, alias modal dengkul, tapi punya bekal kepercayaan dan kejujuran. Properti yang saya jual, habis terjual. Kepercayaan orang mulai berdatangan. Satu per satu orang menitipkan dananya ke saya untuk membeli properti.
Akhirnya kerjasama seperti itu berulang lagi, berulang lagi, berulang lagi hingga puluhan kali.
Banyak teman yang bertanya tentang strategi yang saya terapkan. Lama saya merenung, merancang ulang, mengkaji beberapa rahasia, menyelami kejadian-kejadian yang saya alami, bukan hanya secara fisik, namun juga hal-hal “ajaib” yang terjadi. Jelas bukan mistik, namun ada nuansa spiritual yang mengikuti berbagai prestasi yang saya raih. Hal ini bermanfaat untuk memotivasi banyak orang untuk kembali bangga dengan agamanya. Hal ini ternyata juga telah dijelaskan secara ilmiah oleh banyak pengkaji ilmu kesuksesan.
Dengan pengalaman empiris ini, saya ingin melengkapi semua ilmu yang telah ada, sekaligus mengarahkan manusia kepada rahasia kejayaan Islam. Bahwa umat Islam yang pernah menguasai dunia ini selama tujuh abad pasti punya rahasia kesuksesannya.
Akhirnya,… saya berhasil mendapatkan formula tentang strategi membangun kekayaan secara syariah melalui properti yang sederhana, yang bisa dilakukan semua orang, baik dia pengusaha, karyawan, atau bahkan pengangguran sekalipun….
Bagaimana pengangguran bisa? Jawaban saya sederhana atas pertanyaan ini. Saya juga dulu pengangguran, dan saya bisa, kenapa orang lain tidak bisa? Dengan langkah optimis, positif thinking, upaya tak kenal lelah, tanpa harus manipulasi, Allah akan membuka jalan kesuksesan.
Jangan menunda dan menunggu lebih lama lagi. Miliki modul spiritualpREneurship sekarang juga dan jadilah seorang Muslim kebanggaan umat karena telah keluar dari beban keuangan dan menjadi milyarder muslim yang bermanfaat untuk orang lain. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain” - HR. Muttafaq ‘alaih.
Salam Berkah, Semoga Allah pertemukan kita dalam kebaikan dan puncak kegemilangan Islam.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Nasrullah
Pemilik dan Pengelola spiritualpREneurship dan The Orchid Realty
Jln Dahlia 2, The Orchid Residence Blok A No 4, RT 01/04, Beji, Depok
Tertarik. Klik Website berikut: www.spiritualpreneurship.com
Pemilik dan Pengelola spiritualpREneurship dan The Orchid Realty
Jln Dahlia 2, The Orchid Residence Blok A No 4, RT 01/04, Beji, Depok
Popularity: 6% [?]
No related posts.

















Ati-ati ketipu sama orchid residence, sebelum beli tanya warganya dahulu karena banyak yang mengeluh, banyak janji yang tidak di tepati, sekali lagi ati-ati kena tipu sama orchid residence or orchid realty.
Maaf ya pak.. Komentarnya baru di approve.
Memang punya pengalaman yg kurang baik ya??
Saran saya langsung sampaikan ke pengelolanya saja.
Toh segala sesuatu tidak ada yg sempurna, namun kita bisa berusaha melalukan yg terbaik.
Salah satunya dengan menyampaikan keluhan tsb kepada ybs.
Agar mereka bisa lebih baik dan tidak mengulangi kekhilafan di kemudian hari.
Trims.