Sayangi Bumi, Selamatkan Generasi
Mendengar kata sayangi bumi, selamatkan generasi seperti sebuah hal yang sangat sulit atau berat. Terbayang di pikiran kita bagaimana mencegah peperangan, polusi, pemanasan global (global warming) atau hal-hal yang mungkin sulit bagi kita lakukan untuk melakukannya.
Namun, demi menjadi seorang penyelamat generasi atau pecinta bumi dan lingkungan ternyata amatlah sederhana dan mudah. Di saat pemanasan global kian menggila, polusi merajalela, cuaca tak beraturan seperti sekarang, memang selayaknya setiap orang menjadi pecinta lingkungan, sehingga insya Allah apa yang kita lakukan kelak mampu menyelamatkan generasi atau anak cucu yang hidup setelah kita.
Bagaimana caranya? Mudah saja. Berikut 8 Tips melindungi bumi dari kehancuran yang saya ramu untuk anda. Semuanya adalah hal-hal sederhana yang dapat kita mulai dari kita sendiri, dari yang terkecil, mulai hari ini. Apa saja itu?
1. Gunakan Bola Lampu Jenis Flurosen alias Fluorescent Lights (CFLs).

Lampu ini memang lebih mahal ketimbang lampu bohlam biasa. Tapi daya tahannya 10 kali lipat lebih lama dan yang pasti lebih hemat energi. Ini bukan iklan. Studi membuktikan bila lampu CFL menyerap energi 75 persen lebih sedikit daripada nola lampu kuning terang benderang biasa. Dalam setahun CFL mampu mengurangi produksi karbon dioksida hingga 500 pon. Ini setara dengan polusi yang dihasilkan 17 mobil di jalan raya selama satu tahun!
2. Hemat Listrik di Rumah.

Nasihat lama atau iklan klasik yang tak pernah ketinggalan zaman. Justru kian lama nasihat ini kian dibutuhkan realisasinya, bukan hanya sekadar teori. Tanpa disadari, kita terus menerus membeli dan menggunakan produk yang menghamburkan energi listrik di rumah kita.
Televisi (TV) adalah salah satunya. Tanpa sadar sebuah keluarga kerap menyalakan TV tanpa henti 24 jam walau tidak ditonton. Begitu juga komputer, kipas angin dan charger ponsel yang terus terhubung ke colokan listrik. Jangan lupa padamkan lampu di siang hari dan matikan listrik saat tidak digunakan, atau anda berpergian!
3. Jangan Gunakan Tas Plastik.

Sebisa mungkin hindari atau minimalisir pemakaian plastik. Tas plastik memang banyak dipakai pasar swalayan maupun tradisional dalam mengemas belanjaan. Ada baiknya kita membawa tas kain atau kertas sendiri dari rumah dan menolak dengan halus tas plastik dari penjual. Mengapa? Plastik bukan bahan yang dapat hancur dengan sendirinya di pembuangan sampah. Ia perlu bertahun-tahun untuk hancur. Bahkan sejumlah kandungan dalam bahan tersebut justru merusak kesuburan hayati tanah.
4. Maksimalkan Penggunaan Komputer / IT.

Memang di era kini sudah jarang orang berkirim surat melalui pos. Tapi jangan salah, masih banyak perkantoran maupun pribadi yang lebih suka menyimpan dokumen atau surat-surat secara tradisional, yakni dengan dicetak di atas kertas. Memang ada beberapa surat berharga yang tak bisa tergantikan dengan surat elektronik. Namun selama sebuah dokumen dapat disimpan secara elektronik di komputer, usahakan lakukan itu. Asal tahu saja, kertas yang kita pakai telah sukses menggunduli hutan akibat perusahaan kertas telah menebang pohon-pohon sebagai bahan dasarnya.
5. Beli Produk Lokal.

Hentikan membeli produk pangan impor. Dengan mengonsumsi apa yang ada di dekat kita, maka kita berperan dalam mengurangi polusi dan pemborosan energi. Mengapa harus mengimpor daging sapi dari Australia jika sapi lokal tak kalah lezatnya? Bayangkan berapa energi dihabiskan dan polusi dihasilkan dari sekadar mendatangkan sosis Eropa atau keju Belanda ke meja makan Anda. Sebagai informasi, apel dari New Zealand harus mengarungi jarak sejauh lebih dari 2.000 mil demi berada di pasar swalayan di Jakarta!
6. Praktikan Prinsip 3 R

Reduce, Reuse, Recycle. Kurangi konsumsi, gunakan kembali barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan, dan daur ulang bahan tertentu. Mengucapkannya memang mudah, tapi tidak menjalankannya. Hanya sekali memulai, kita akan terbiasa.
7. Kurangi Pemakaian Bahan Kimia.

Bahan kimia bukanlah bahan alami. Seperti bahan buatan lainnya, bahan ini tak dapat lebur dengan sendirinya dan meninggalkan efek buruk pada kehidupan. Pestisida, obat nyamuk dan sejumlah bahan pembersih ruangan mengandung aneka komponen kimia yang tanpa sadar ikut kita hirup seumur hidup kita dan anak-anak. Bahkan pangan sayur dan buah pun ikut membawanya ke dalam tubuh kita. Cara mengatasinya? Kurangi konsumsi bahan kimia pada produk rumah tangga dan maksimalkan konsumsi bahan-bahan alami, termasuk sayuran organik yang tidak menggunakan pestisida atau bahan kimia.
8. Hijaukan Rumah Anda!

Banyak di antara kita yang mengaku cinta lingkungan, cinta penghijauan, namun faktanya nyaris tak pernah menanam apapun di halaman rumahnya. Oke jika Anda tak punya halaman rumah. Setidaknya usahakan Anda memberi kesempatan bagi tumbuhan untuk hidup di sekitar. Tanaman gantung atau hidroponik cukup membantu bagi Anda yang tinggal di rumah susun, kos/sewa, atau apartemen. Jika lebih hijau insya Allah suasana akan lebih segar dan hati menjadi lebih nyaman.
——————
Dari berbagai sumber
Popularity: 9% [?]



















Setuju!!! Gunakan selalu produk dalam Negeri bro
Sip bro. Saya juga sedang berusaha menggunakan produk lokal utk beberapa hal tertentu, meski banyak juga yg dari luar belum bisa digantikan. Sedikit demi sedikit dulu.
Trims atas kunjungannya.
Wah, website yang keren, peduli lingkungan pula..
Sekedar menambahkan tips2 lingkungan di atas: Perlu juga dilakukan pengurangan konsumsi daging. Peternakan terbukti sebagai penghasil emisi gas rumah kaca yang sangat besar.
PBB merilis laporan th.2006 (Livestock’s Long Shadow) yang membeberkan fakta bahwa peternakan merupakan kontributor emisi gas rumah kaca yang lebih besar daripada transportasi. (18% vs 13%)
Untuk informasi lebih lengkap, monggo didownload buku Global Warming gratis di: http://hiduplebihmulia.wordpress.com/2009/05/13/buku-global-warming-cetakan-ke-2/
Terima kasih & sukses untuk blognya.. Keren..
Agus
Wha.. Terima kasih kembali mas. Senang bisa berbagi.
Saya turut prihatin dengan kondisi lingkungan terutama di negara kita, Indonesia. Airnya tak lagi bersih, udaranya tak lagi segar, dan manusianya belum banyak yg peduli.
Hehe..Trims tambahan tipsnya, secara daging juga mahal.
Btw. Blognya keren.
Bukunya juga insiping. OK